On Friendship

Dalam kehidupan, kita sudah pasti berteman. Seburuk-buruknya sifat seseorang, pasti setidaknya dia memiliki seorang teman. Termasuk saya.

Setelah saya memperhatikan sekeliling saya tentang pertemanan, kadang saya merenung. Apakah ada pertemanan yang sejati?

Saya memperhatikan kedua orang tua saya dan orang-orang yang usianya lebih dari 50 tahun.
Kebanyakan mereka berteman dengan orang yang tinggal berjarak dekat dengan mereka.
Atau memiliki kesamaan yang membuat mereka bertemu secara rutin, misalkan kalau anak mereka bersekolah di tempat yang sama, atau kerja di tempat yang sama.

Teman-teman lama mereka, seakrab apapun sewaktu dulu, pada akhirnya hanya akan bertemu setahun sekali, atau 5 tahun sekali.

Bukan maksud saya untuk mendiskreditkan persahabatan mereka dengan mengatakan bahwa pertemuan setahun sekali dan 5 tahun sekali tidak terlihat seperti sebuah persahabatan, akan tetapi akan berbeda teman yang bisa kita temui setiap hari dengan teman yang kita sangat jarang temui. Mungkin mereka sesekali tetap berkabar melalui media sosial, akan tetapi kalau dari pengalaman saya sendiri, tanpa kontak fisik, tatap mata secara langsung, perlahan-lahan persahabatan akan memudar. Misalkan dahulu saya bisa ingat apa yang sedang terjadi pada mereka, kesulitan yang sedang mereka hadapi, dan kita peduli. Kalau sekarang, apabila mereka menceritakan kondisi mereka ke saya, jujur saya sulit mengingat secara detail. Saya hanya bisa ingat secara samar-samar. Berbeda dengan teman yang kita temui secara langsung.

Persahabatan saya perlahan memudar oleh jarak.

Kebetulan sekali ketika menulis bagian ini, tiba-tiba lagu dari playlist saya, “That’s What’s Friends Are For” berputar.

Aku menutup mata, mendengarkan sambil tersenyum,

Keep smiling, keep shining,
Knowing you can always count on me,
That’s what’s friends are for.

Mengenai pertemanan juga.
Seindah-indahnya cerita orang tentang pertemanan yang mereka miliki.
Terkadang bisa runtuh karena uang.
Oleh karenanya saya terkadang merasa secara tidak sadar telah membangun dinding.
Dinding agar orang lain tidak bisa masuk terlalu dalam.
Ada batas-batasan seakrab apapun kita berteman.

Berdasarkan apa yang saya amati dari orang-orang di luar sana,
pertemanan yang rusak akibat bisnis,
membuat saya menghindari melakukan bisnis bersama teman.
Karena seberapa akrab dan dekat, bahkan seperti saudara, antara saya dengan teman saya,
saya tidak bisa membaca pikirannya.
Adilnya, terkadang saya pun tidak yakin dengan pikiran saya sendiri.
Bagaimana saya bisa yakin 100% dengan orang lain?
Haruskah saya menjadi vulnerable?
Berdasarkan penelitian Dr. Brené Brown, hidup yang berharga adalah hidup yang vulnerable, kita mencintai dengan berani, lalu kita berani juga tersakiti karenanya, dan kemudian bangkit kembali.
Entahlah, saya tidak tahu.
Tidak ada rumus yang pasti di dunia ini.
Untuk saat ini, karena saya sayang dengan teman-teman saya, dan tidak ingin merusak pertemanan, saya memilih untuk membangun dinding, dan menjaga yang sudah ada.

Leave a comment