How to Read Anyone: comment I

Buku ini berisi banyak tips tentang cara untuk membaca orang, dan pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita tanyakan untuk mengetahui isi hati seseorang.

Ada bagian dari buku ini yang berisi tentang tanda-tanda fisik kalau orang sedang gugup, menyembunyikan sesuatu, berbohong, dan lain-lain. Akan tetapi, menurut saya tidak bijak apabila orang membaca buku ini dan langsung menilai orang berdasarkan tanda-tanda fisik saja.

Hal ini dikarenakan setiap orang punya kebiasaan. Terkadang ada orang yang memang sering memegang hidungnya karena kebiasaan, bukan berarti dia sedang berbohong. Saya pernah membaca buku lain yang kurang lebih topiknya tentang membaca orang juga. Di sana dijelaskan kalau setiap orang ada baseline, yaitu kebiasaan biasanya orang tersebut. Ketika menilai seseorang, selalu bandingkan dengan baseline-nya.

Misalkan orang yang sehari-hari tampak gugup, tangan sering bergetar, kaki sering bergoyang, apabila dia melakukan gerakan-gerakan yang dianggap menunjukkan kegugupan, bukan berarti dia sedang gugup. Sehingga kalau misalkan kita bertemu dengan orang yang baru dikenal, tidak bijak bila kita langsung menilai dia A, B, dan C. Sebaiknya kita harus tahu baseline dari orang tersebut terlebih dahulu.

Lalu masukan dari saya sendiri terhadap buku seperti ini, membaca orang bukan ilmu pasti. Hanya karena kita membaca seseorang sedang menyembunyikan sesuatu, bukan berarti sikap kita harus berubah seolah-olah dia sedang berbohong. Untuk saya sendiri, tetap saya akan memberlakukan prinsip innocent until proven guilty. Perlakuan saya terhadap orang-orang tetap sama saja, kecuali untuk urusan bisnis. Kesopanan, attitude, dan service tetap sama, akan tetapi akan ada step-step precaution yang lebih untuk orang-orang yang memiliki niat buruk. Dan juga ada kalanya kita bergantung pada gut feeling, atau insting, karena ada kalanya orang yang sudah terbiasa berbohong sampai tidak terlihat seperti berbohong. Bahkan orang yang membaca buku ini bisa jadi karena sudah tahu ciri-ciri orang yang sedang menyembunyikan sesuatu, bisa lebih ahli dalam berbohong, termasuk saya.

Bagi saya sendiri, untuk berbohong yang lebih meyakinkan, kita sendiri harus yakin kalau kebohongan adalah kebenaran, seperti hipnotis diri. Dengan yakin kalau kebohongan adalah kebenaran, segala tindakan bahkan sampai microexpression juga akan menyesuaikan, seolah-seolah kebohongan adalah kebenaran.

Leave a comment