Agen properti rumah mewah memiliki janji temu dengan seorang klien di hari Minggu pagi. Ketika bertemu dengannya, klien tersebut memakai setelan jas dan dasi, dan sedang bertelepon dengan orang “penting.” Kemungkinan klien tersebut tidak punya uang.
Hal tersebut disebut sebagai overcompensation. Orang yang percaya diri, akan tampil biasa saja, apalagi di sebuah hari minggu pagi.
Untuk topik ini, saya pernah mendengar 2 argumen dari dua kubu,
1. Dress to impress
2. Berpakaianlah senyamannya, asalkan sopan
Untuk bercerita tentang hal ini, saya akan membawa cerita yang disampaikan ayahku kepadaku.
Ayahku clearly adalah tipe yang ke-2. Tapi alasan dibaliknya tidaklah filosofis. Melainkan memang sudah habit dia untuk berpakaian senyamannya. Namun terkadang sudah manusiawi dari sisi kita untuk menganggap kebiasaan kita sebagai sesuatu yang positif, dengan memberi pembenaran bahwa kebiasaan kita adalah hal yang baik. Oleh karenanya, ayah saya menganggap berpakaian biasa saja adalah hal yang benar.
Di sisi lain, ada teman dari ayah saya. Suatu saat ketika sedang nongkrong malam-malam di warung kopi bersama ayah saya. Ada topik yang muncul mengenai cara berpakaian. Teman ayah saya ini bergerak di sebuah lini bisnis percetakan kaos. Dia berusaha mengajari orang-orang yang ada di sana tentang pentingnya berpakaian yang proper dan terlihat luxury, menggunakan setelan jas mahal dan menggunakan jam tangan Rolex, agar klien lebih yakin dengan perusahaan. Ayah saya tidak membantah apapun, akan tetapi dia bercerita ke kami anak-anaknya bahwa hal tersebut tidaklah penting. Yang penting adalah memberikan pelayanan terbaik dan nantinya biarkan hasil kerja kita dan word of mouth yang membuat mereka yakin akan kualitas pekerjaan kita.
Saya bisa melihat dan mengerti kedua PoV dari teman ayah saya dan ayah saya.
Kalau komentar dari saya, dress to impress itu penting apabila klien yang akan kita yakinkan menilai orang lain dari penampilan. Setiap orang pasti menilai orang dari penampilan, sangat manusiawi, hal itu bahkan terjadi di level subconscious. Tapi orang yang bijak akan tetap menilai orang dari penampilan di level alam bawah sadar, tapi tidak akan membiarkan penilaian tersebut mempengaruhi penilaian tentang urusan bisnis terhadap orang lain. After all, pakaian hanyalah pakaian. Dalam bisnis, yang penting adalah kelancaran urusan bisnis dan hasil akhirnya.
Ayah saya memiliki beberapa teman dengan kekayaan yang super kaya, hampir hitungan T. Ketika bertemu dengan mereka, penampilannya juga biasa saja. Kaos polo lengan pendek dan celana panjang.
Orang yang benar-benar kaya adalah orang yang bisa memiliki kebebasan berpakaian tanpa mengkhawatirkan apa yang orang lain tentang dirinya.
What good is wealth if it made us imprisoned by people’s judgement. Isn’t wealth supposed to enable more choice?