Menye menye

Menye menye adalah salah satu hal yang paling gw gak suka di dunia.

Contohnya misalnya lagi main game PUBG, ada cewek gak dapet senjata yang dia mau, kemudian dia kayak, “Iiiih, aku kan mau senjata itu~~,” atau misalnya ceweknya gak dapet kill bot, “Iiiiih, kok botnya diambil sih??” trus pake nada yang sok imut. Dikira imut apa. Pick me banget. Please be normal kayak manusia sehat bukan manusia sakit jiwa. Gw senangnya kalo main sama cewek yang jago dan pinter, dan bisa support dan backup kalau ada musuh. Rasanya kayak temen main setara dan benar-benar sekalian have fun.

Atau kalau misalnya bukan di dunia game, di dunia nyata, kadang-kadang ada cewek yang serba gak punya apa-apa, tapi maunya banyak. Udah hidup keluarganya dibantu bayarin, masih menye menye minta jalan-jalan ke Paris, konteksnya cowoknya bukan yang kaya banget ya, pas-pasan juga. Orang gila beban hidup. Satu-satunya nilai tambah dia cuma fisik, yang nanti pas tua juga bakal jadi jelek.

Gw percaya setiap orang harus punya dignity dan strive to be strong.

Kalau menye-menye itu gw melihatnya sebagai pura-pura atau bahkan sengaja menjadi lemah supaya gak perlu melakukan apa-apa. Atau sok lemah buat memanfaatkan orang. Kayak, kemana harga dirinya?

RIP Charlie Kirk

Just this morning, I was very shocked by the death of a famous right-wing political influencer, Charlie Kirk. When I went to a bakmi place with my sister, she showed me the video where he was shot dead. I was at loss for words. Can’t believe it really happened, I asked her, “is this a real video?” “Yes it is!”

If there was a dream and in that dream this is what could have happened. But this is the real life. Like… how? When someone very famous died, gruesomely, it was a very shocking scene indeed.

Then after that I sat there with blank expression. Contemplating many things. Like, I knew this guy since he was just on the way of becoming famous. Not knowing personally, but like I was exposed to his content since the beginning of his career. I don’t like him. I don’t like his ideas. I don’t like his personality and I don’t like the way he debates other people. Nothing in his existence can make me say I like him.

The shock, it felt like red wedding all over again, but now it was in real life. The video shown to me was horrid. Fire was shot, exactly on his neck. Blood gushing out so heavily. Its color is not exactly red. It’s dark red, more like.. black. I wanted to see the video again. I wanted to know what he was like after getting shot. Did he show he was in agony? But why do I care about such things? I guess my mind still wanted to make sense of what happened.

Then I watched the video again, this time I noticed more carefully.
After he was shot in the neck, I think the blood loss came so quickly so that in less than one second, he lost consciousness. Oh, at least he did not die painfully.

A few hours later, I wanted to know what his stance on politics was. Well I already knew he was a conservative. And conservatives stances were: loosening gun controls, ban abortion, christianity, anti-immigrant, anti-LGBTQ, white people supremacy. Well I knew some of them were not really accurate, but I don’t want to debate about it. I knew he was a conservative, but sometimes a person can be conservative but adopt some of leftist stances. But this guy, a total conservative, to the point sometimes I didn’t believe he actually believed in his said values.

Apparently there’s a debate on the internet, just no more than 3 hours after his death. People already talked, discussed, whether he deserved it or not. Most people’s stance was: he did not deserve it even though they disagree with his PoV, because all he did was talk, no one deserves to die just for talking.

For me, the debate whether he deserved it or not was not important, at all. He already died. Whether people agree he deserved it or not would not change anything. Although, there is an irony. He promoted easier access to gun ownership. He once said that China would never overtake Hong Kong if Hong Kong allowed gun ownership. Crazy, stupid, and planting dangerous idea to people’s minds. His words were poisonous, divisive, and dangerous. China owned Hong Kong, it’s a fact. And it’s not up to Hong Kong citizens whether Hong Kong is a part of China or not. If sovereignty was based on people’s opinion, then many places would want to separate and become an independent country. All you need to do to break a country was brainwash them through media. If the government then control media, you invade them in the name of “democracy.” Sounds familiar?

And then there was this one thing that buzzed me. Did you remember the CEO who was killed Luigi Mangione? For that case many people supported Luigi’s action, different from this one. So they say, “he did not deserve to die for just talking.” But then they also say about the CEO, “he deserves to die for taking profit from people’s lives.” Funny how people’s views change based on their emotions. Or maybe they don’t realize that talking could be as harmful as any gun. It’s talking that lead a terrorist country to invade Gaza. It’s talking that makes someone do suicide bombing. And it’s talking by a certain fascist leader that lead to genocide of millions.

How to Read Anyone: comment II

Baca ini terlebih dahulu.

Sudah dibaca? Bagi saya, ada yang cacat dalam pengambilan kesimpulan dari hal ini.
Hal ini masih berhubungan dengan post saya sebelumnya tentang buku ini, How to Read Anyone: Comment I.

Hal yang cacat adalah baseline John. Apabila John sehari-hari adalah orang yang pesimis, maka apabila komentar dia bernada pesimis, bukan berarti hasil pertemuannya buruk. Sebaliknya apabila John adalah orang yang optimis, apabila ada komentar dia yang bernada positif, bukan berarti hasil pertemuannya baik. Namun apabila John orangnya optimis, dan dia berkomentar yang bernada negatif, bisa jadi hal tersebut menggambarkan hasil rapat John.

Terkadang ada hal-hal lain juga yang bisa jadi luput dari penilaian kita. Misalkan John baru kehilangan kekasihnya, bisa jadi hal tersebut mempengaruhi emosi dia seharian penuh, sehingga suasana hati dia cenderung negatif.

Jadi seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya di comment I. Reading a person is fine, but always have doubt.

Oh dan saya juga ingin mengajarkan orang-orang yang kebetulan membaca tulisan ini.

“Tidak menjawab adalah sebuah jawaban.”
dan
“Delay dalam menjawab adalah sebuah jawaban juga.”

Saya pertama kali mempelajari hal ini ketika saya membaca manga legend Death Note. Ada satu halaman di mana Near bertanya sesuatu kepada Light Yagami (Kira) berikut:

My Confidence

I put my confidence in external factors.
Just an example, if I had a lot of customers, I will feel confident to meet and interact with people.
But if I didn’t feel like I achieve something, then meeting people just feels so hard.
What will I tell them what is going on?
Nothing?
I achieved nothing.
While everyone else does something.

It’s true though, life is not about being rich.
It’s also about fulfilling your role in this world.
No wonder Prabowo having been rich his whole life, chose to be a military man,
and tried so hard to be president.
I guess the reason is that
the thirst, the hunger, the dissatisfaction with our own self,
push us to do something great,
so that when we sleep at night,
we can tell ourselves,
we did it.

Overcompensation

Agen properti rumah mewah memiliki janji temu dengan seorang klien di hari Minggu pagi. Ketika bertemu dengannya, klien tersebut memakai setelan jas dan dasi, dan sedang bertelepon dengan orang “penting.” Kemungkinan klien tersebut tidak punya uang.

Hal tersebut disebut sebagai overcompensation. Orang yang percaya diri, akan tampil biasa saja, apalagi di sebuah hari minggu pagi.

Untuk topik ini, saya pernah mendengar 2 argumen dari dua kubu,
1. Dress to impress
2. Berpakaianlah senyamannya, asalkan sopan

Untuk bercerita tentang hal ini, saya akan membawa cerita yang disampaikan ayahku kepadaku.

Ayahku clearly adalah tipe yang ke-2. Tapi alasan dibaliknya tidaklah filosofis. Melainkan memang sudah habit dia untuk berpakaian senyamannya. Namun terkadang sudah manusiawi dari sisi kita untuk menganggap kebiasaan kita sebagai sesuatu yang positif, dengan memberi pembenaran bahwa kebiasaan kita adalah hal yang baik. Oleh karenanya, ayah saya menganggap berpakaian biasa saja adalah hal yang benar.

Di sisi lain, ada teman dari ayah saya. Suatu saat ketika sedang nongkrong malam-malam di warung kopi bersama ayah saya. Ada topik yang muncul mengenai cara berpakaian. Teman ayah saya ini bergerak di sebuah lini bisnis percetakan kaos. Dia berusaha mengajari orang-orang yang ada di sana tentang pentingnya berpakaian yang proper dan terlihat luxury, menggunakan setelan jas mahal dan menggunakan jam tangan Rolex, agar klien lebih yakin dengan perusahaan. Ayah saya tidak membantah apapun, akan tetapi dia bercerita ke kami anak-anaknya bahwa hal tersebut tidaklah penting. Yang penting adalah memberikan pelayanan terbaik dan nantinya biarkan hasil kerja kita dan word of mouth yang membuat mereka yakin akan kualitas pekerjaan kita.

Saya bisa melihat dan mengerti kedua PoV dari teman ayah saya dan ayah saya.

Kalau komentar dari saya, dress to impress itu penting apabila klien yang akan kita yakinkan menilai orang lain dari penampilan. Setiap orang pasti menilai orang dari penampilan, sangat manusiawi, hal itu bahkan terjadi di level subconscious. Tapi orang yang bijak akan tetap menilai orang dari penampilan di level alam bawah sadar, tapi tidak akan membiarkan penilaian tersebut mempengaruhi penilaian tentang urusan bisnis terhadap orang lain. After all, pakaian hanyalah pakaian. Dalam bisnis, yang penting adalah kelancaran urusan bisnis dan hasil akhirnya.

Ayah saya memiliki beberapa teman dengan kekayaan yang super kaya, hampir hitungan T. Ketika bertemu dengan mereka, penampilannya juga biasa saja. Kaos polo lengan pendek dan celana panjang.

Orang yang benar-benar kaya adalah orang yang bisa memiliki kebebasan berpakaian tanpa mengkhawatirkan apa yang orang lain tentang dirinya.

What good is wealth if it made us imprisoned by people’s judgement. Isn’t wealth supposed to enable more choice?

How to Read Anyone: comment I

Buku ini berisi banyak tips tentang cara untuk membaca orang, dan pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita tanyakan untuk mengetahui isi hati seseorang.

Ada bagian dari buku ini yang berisi tentang tanda-tanda fisik kalau orang sedang gugup, menyembunyikan sesuatu, berbohong, dan lain-lain. Akan tetapi, menurut saya tidak bijak apabila orang membaca buku ini dan langsung menilai orang berdasarkan tanda-tanda fisik saja.

Hal ini dikarenakan setiap orang punya kebiasaan. Terkadang ada orang yang memang sering memegang hidungnya karena kebiasaan, bukan berarti dia sedang berbohong. Saya pernah membaca buku lain yang kurang lebih topiknya tentang membaca orang juga. Di sana dijelaskan kalau setiap orang ada baseline, yaitu kebiasaan biasanya orang tersebut. Ketika menilai seseorang, selalu bandingkan dengan baseline-nya.

Misalkan orang yang sehari-hari tampak gugup, tangan sering bergetar, kaki sering bergoyang, apabila dia melakukan gerakan-gerakan yang dianggap menunjukkan kegugupan, bukan berarti dia sedang gugup. Sehingga kalau misalkan kita bertemu dengan orang yang baru dikenal, tidak bijak bila kita langsung menilai dia A, B, dan C. Sebaiknya kita harus tahu baseline dari orang tersebut terlebih dahulu.

Lalu masukan dari saya sendiri terhadap buku seperti ini, membaca orang bukan ilmu pasti. Hanya karena kita membaca seseorang sedang menyembunyikan sesuatu, bukan berarti sikap kita harus berubah seolah-olah dia sedang berbohong. Untuk saya sendiri, tetap saya akan memberlakukan prinsip innocent until proven guilty. Perlakuan saya terhadap orang-orang tetap sama saja, kecuali untuk urusan bisnis. Kesopanan, attitude, dan service tetap sama, akan tetapi akan ada step-step precaution yang lebih untuk orang-orang yang memiliki niat buruk. Dan juga ada kalanya kita bergantung pada gut feeling, atau insting, karena ada kalanya orang yang sudah terbiasa berbohong sampai tidak terlihat seperti berbohong. Bahkan orang yang membaca buku ini bisa jadi karena sudah tahu ciri-ciri orang yang sedang menyembunyikan sesuatu, bisa lebih ahli dalam berbohong, termasuk saya.

Bagi saya sendiri, untuk berbohong yang lebih meyakinkan, kita sendiri harus yakin kalau kebohongan adalah kebenaran, seperti hipnotis diri. Dengan yakin kalau kebohongan adalah kebenaran, segala tindakan bahkan sampai microexpression juga akan menyesuaikan, seolah-seolah kebohongan adalah kebenaran.

Overthinking in 5 seconds

Baru tadi siang saya membeli siomay.
Ketika abangnya sedang menyiapkan siomaynya: mengambil dan memotongnya, saya pergi ke motor saya untuk mengambil uang cash, jarak hanya sekitar 3 meter. Namun pada saat saya berjalan menuju ke arah motor, saya khawatir kalau abangnya akan mengira saya pergi tanpa membayar. Sehingga ada sedikit keinginan saya untuk memberitahu abangnya kalau saya hanya mengambil uang dari motor. Padahal dengan jarak sependek itu, saya tidak perlu meyakinkan abangnya apapun. Saya hanya cukup diam dan bergerak menuju ke motor.
Terdengar konyol, kan? Jarak hanya 3 meter, dan saya mengkhawatirkan hal seperti itu. Namun untuk lebih akuratnya, ada bagian dari diri saya yang khawatir, karena secara otomatis juga, ada counter self-talk, yang meyakinkan saya kalau hal tersebut tidak usah dihiraukan.
Pada saat itu, dari luar, saya terlihat percaya diri dan terlihat tidak memikirkan hal apapun.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari 5 detik.

Trilogi Diri

Saya menemukan sesuatu yang menarik ketika sedang membaca You Can Read Anyone by David J. Lieberman.
Hal ini tidak ada hubungannya dengan cara membaca orang lain, akan tetapi hal ini berkaitan dengan membaca diri sendiri.

Dalam hal ini, di dalam diri kita diibaratkan terdiri dari 3 unsur:
Jiwa, Ego, dan Tubuh.
Jiwa akan berusaha melakukan hal yang benar.
Ego akan berusaha melakukan hal yang terlihat benar.
Tubuh akan berusaha melakukan hal yang terasa enak.
dan setiap hari mereka berperang satu sama lain.

Semisal ada mobil baru yang ingin kita beli walaupun keuangan tidak memadai.
Jiwa kita tahu bahwa membeli mobil adalah hal yang salah.
Namun ego akan meyakinkan diri kalau membeli mobil tidak ada salahnya.
Di bagian ini, tubuh tidak terlalu terlibat.

Lalu misalkan pada pagi hari weekend ketika kita sudah berjanji kepada diri sendiri untuk berolahraga,
Jiwa kita tahu bahwa kita harus berkomitmen untuk berolahraga pagi,
Ego kita juga berusaha meyakinkan untuk berolahraga, namun motivasinya adalah supaya teman-teman kita tidak berkata kalau kita ingkar janji,
Namun tubuh kita berkata untuk lanjut tidur saja karena tidur nyaman sekali.

This realization sangat menyadarkan saya akan pilihan-pilihan sehari-hari saya selama ini. Sebelum membaca buku ini, saya tidak menyadari hal tersebut ada. Oleh karena itu saya ingin share juga ke pembaca yang ada di sini.

Realisasi ini juga membuat saya berpikir.
Ada hal-hal yang tidak bisa saya sadari hanya dengan berpikir sendirian.
Ada hal-hal yang dipelajari dan sudah dipikirkan oleh orang lain, dan bisa sangat bermanfaat apabila saya mempelajarinya.

On Friendship

Dalam kehidupan, kita sudah pasti berteman. Seburuk-buruknya sifat seseorang, pasti setidaknya dia memiliki seorang teman. Termasuk saya.

Setelah saya memperhatikan sekeliling saya tentang pertemanan, kadang saya merenung. Apakah ada pertemanan yang sejati?

Saya memperhatikan kedua orang tua saya dan orang-orang yang usianya lebih dari 50 tahun.
Kebanyakan mereka berteman dengan orang yang tinggal berjarak dekat dengan mereka.
Atau memiliki kesamaan yang membuat mereka bertemu secara rutin, misalkan kalau anak mereka bersekolah di tempat yang sama, atau kerja di tempat yang sama.

Teman-teman lama mereka, seakrab apapun sewaktu dulu, pada akhirnya hanya akan bertemu setahun sekali, atau 5 tahun sekali.

Bukan maksud saya untuk mendiskreditkan persahabatan mereka dengan mengatakan bahwa pertemuan setahun sekali dan 5 tahun sekali tidak terlihat seperti sebuah persahabatan, akan tetapi akan berbeda teman yang bisa kita temui setiap hari dengan teman yang kita sangat jarang temui. Mungkin mereka sesekali tetap berkabar melalui media sosial, akan tetapi kalau dari pengalaman saya sendiri, tanpa kontak fisik, tatap mata secara langsung, perlahan-lahan persahabatan akan memudar. Misalkan dahulu saya bisa ingat apa yang sedang terjadi pada mereka, kesulitan yang sedang mereka hadapi, dan kita peduli. Kalau sekarang, apabila mereka menceritakan kondisi mereka ke saya, jujur saya sulit mengingat secara detail. Saya hanya bisa ingat secara samar-samar. Berbeda dengan teman yang kita temui secara langsung.

Persahabatan saya perlahan memudar oleh jarak.

Kebetulan sekali ketika menulis bagian ini, tiba-tiba lagu dari playlist saya, “That’s What’s Friends Are For” berputar.

Aku menutup mata, mendengarkan sambil tersenyum,

Keep smiling, keep shining,
Knowing you can always count on me,
That’s what’s friends are for.

Mengenai pertemanan juga.
Seindah-indahnya cerita orang tentang pertemanan yang mereka miliki.
Terkadang bisa runtuh karena uang.
Oleh karenanya saya terkadang merasa secara tidak sadar telah membangun dinding.
Dinding agar orang lain tidak bisa masuk terlalu dalam.
Ada batas-batasan seakrab apapun kita berteman.

Berdasarkan apa yang saya amati dari orang-orang di luar sana,
pertemanan yang rusak akibat bisnis,
membuat saya menghindari melakukan bisnis bersama teman.
Karena seberapa akrab dan dekat, bahkan seperti saudara, antara saya dengan teman saya,
saya tidak bisa membaca pikirannya.
Adilnya, terkadang saya pun tidak yakin dengan pikiran saya sendiri.
Bagaimana saya bisa yakin 100% dengan orang lain?
Haruskah saya menjadi vulnerable?
Berdasarkan penelitian Dr. Brené Brown, hidup yang berharga adalah hidup yang vulnerable, kita mencintai dengan berani, lalu kita berani juga tersakiti karenanya, dan kemudian bangkit kembali.
Entahlah, saya tidak tahu.
Tidak ada rumus yang pasti di dunia ini.
Untuk saat ini, karena saya sayang dengan teman-teman saya, dan tidak ingin merusak pertemanan, saya memilih untuk membangun dinding, dan menjaga yang sudah ada.

On feeling happy with other’s success

Turut bersedih ketika ada orang lain yang bersedih itu mudah.
Lebih sulit adalah turut bersuka cita atas keberhasilan orang lain.

Tapi kemudian pertanyaannya adalah,
kenapa kita harus ikut bersedih kalau ada orang yang bersedih?
lalu kenapa kita harus ikut bersukacita kalau ada orang yang sedang merayakan keberhasilan?
Kenapa tidak netral saja?
atau membiarkan emosi yang muncul menjadi emosi yang muncul.
Tapi tindakan kita tetap menyesuaikan dengan norma masyarakat.
I know our thoughts and emotions will influence what we do next.
But what if we are able to remove thoughts and emotions?
and we are sure that they don’t influence what we do.
We just do what must be done.

Wait a second….

Am I…. a sociopath?