Saya memiliki sebuah toserba langganan. Toko ini terletak hanya 1 menit dengan motor dari rumah saya. Walaupun tokonya tidak besar, tapi rasanya toko ini lengkap dan memiliki apa saja.
Toko ini dijaga oleh sepasang suami istri. Istrinya menjaga di pagi dan siang, suaminya menjaga di sore dan malam.
Suaminya ini tipe pekerja keras dan sangat sederhana. Motor yang dipakai pun bisa dibilang sangat butut dan menurut saya pribadi sudah tidak layak pakai. Tiap kali motor itu lewat ketika sedang dipakai, terdengar suara seolah-olah ada baut yang bergeser-geser. Begitu pula dengan sang istri. Biasanya ketika saya membeli barang, si istri melayani kita dengan mengenakan baju daster apa adanya. Kesederhanaan adalah hal yang dirasakan setiap mampir ke toko tersebut.
Tapi jangan salah. Di balik kesederhanaan itu, sebetulnya mereka kaya raya. Kaya raya dalam artinya mereka kelas menengah ke atas. Mereka punya beberapa tanah, berapa jumlahnya saya kurang tahu. Tokonya selalu ramai orang, rasanya wajar kalau mereka disebut kaya raya.
Suatu hari, saya lupa lagi kapan (memang pikun si penulis), mungkin tahun 2023, si suami terkena stroke. Sebagai konteks, memang si suami ini anti dengan obat-obatan, dan tidak pernah cek kesehatan juga. Mungkin faktor pola hidup dan keturunan juga ada.
Sialnya suaminya adalah, ia langsung terkena stroke yang parah sehingga bisa dibilang dia lumpuh. Kini dia ke mana-mana selalu pakai kursi roda.
Sejak saat itu, istrinya lah yang merawat suaminya yang kini sudah stroke. Bayangkan saja tugas seorang perawat pasien stroke. Bayangkan semua aspek kehidupan yang seseorang sehari-hari lakukan, kini semuanya istrinya yang urus.
Tokonya pun kini sudah sepi. Wajar saja karena sekarang stok barang tidak lagi terjaga. Dan saya beli beberapa barang di sana pun 3x dapat yang kadaluarsa. Padahal dulu tidak pernah begitu.
Namun sekarang tiap kali saya naik motor lewat tokonya, yang saya sayangkan bukanlah kondisi tokonya. Mungkin ini lancang, tapi saya mengasihani istrinya. Karena dengan harta yang banyak itu, mereka tidak pernah menggunakannya untuk bersenang-senang. Semuanya sekadar disimpan. Belum sempat digunakan, mereka terkena musibah duluan. Dan kini istrinya harus menghabiskan sisa hidup dengan merawat suaminya sampai salah satu dari mereka dipanggil duluan. Lancangnya saya adalah karena saya menilai kondisi mereka dari sudut pandang saya, padahal mereka yang menjalani langsung dan saya adalah orang luar. Saya juga lancang karena menyayangkan gaya hidup mereka, padahal bisa jadi mereka menikmati gaya hidup mereka.
Oleh karena itu sebijak-bijaknya orang, salah satunya adalah harus bijak menjaga kesehatan. Jangan sampai orang lain disusahkan karena diri kita jatuh sakit. Memang takdir tidak ada yang bisa tahu. Tapi setidaknya kita bisa peduli dan melakukan yang terbaik untuk menjaga kesehatan. Bukan hanya untuk diri kita tapi juga untuk orang di sekitar kita.
Di kasus ini, saya juga melihat ada faktor kebodohan. Kebodohan di sini bukan artinya stupidity, tapi lebih ke ignorance. Ketidakmauan seseorang untuk belajar. Tidak mau meminum obat adalah contoh ignorance tersebut. Tapi jujur tidak bijak juga saya menghakimi orang lain karena bisa jadi mereka punya pengalaman tertentu di mana meminum obat membuat orang lain celaka, misalkan sirup obat yang tercampur ethylene glycol.
Yah, all in all, memang nasib tidak ada yang bisa tahu. Tapi alangkah bijaknya jika seseorang terus mau belajar, tidak memutuskan untuk berhenti belajar, demi orang-orang yang kita sayangi.